Selama bertahun-tahun, penulis artikel ini telah mengunjungi banyak Security Operations Center (SOC) dan Network Operations Center (NOC) di berbagai negara. Ada SOC yang dilengkapi teknologi paling canggih, ada juga yang bertahan dengan alat seadanya dan kerja keras timnya. Namun, satu hal yang selalu sama adalah cerita dari para pemimpinnya. Para CISO (Chief Information Security Officer) menghadapi tekanan yang terus meningkat: ancaman siber yang makin kompleks, tuntutan bisnis yang semakin tinggi, dan dorongan kuat untuk mengurangi biaya. Di bawah tekanan inilah sering muncul keputusan kompromi yang dampaknya tidak langsung terlihat, tapi sangat mahal di kemudian hari. Artikel ini membahas biaya tersembunyi dari keputusan tersebut, khususnya saat organisasi memilih platform keamanan terbundel (bundled platform) yang terlihat sederhana, tetapi sering gagal saat benar-benar dibutuhkan. Jebakan “Kemudahan” yang Awalnya Terlihat Aman Semuanya biasanya dimulai dari presentasi yang terdengar sangat meyakinkan: satu platform, satu lisensi, satu vendor, satu kontak. Tim pengadaan senang, tim keuangan melihatnya sebagai langkah efisien. Bahkan tidak jarang vendor langsung berbicara ke CFO tanpa melibatkan CISO atau CIO. Di atas kertas, ini terlihat seperti solusi cerdas. Namun kenyataannya berbeda bagi tim SOC yang harus menggunakannya setiap hari. Banyak platform terbundel sebenarnya bukan dibangun sebagai satu kesatuan, melainkan hasil gabungan dari berbagai produk yang dibeli atau disatukan secara paksa. Saat demo, semuanya terlihat terintegrasi. Tapi di balik layar, fitur-fitur tersebut sering hanya “disambung” seadanya. Seiring waktu, masalah mulai muncul: Log tidak sinkron Korelasi kejadian lambat Analis harus mencari cara manual untuk menutupi kekurangan sistem Bahkan perlu membeli solusi tambahan agar sistem “bekerja dengan benar” Keputusan konsolidasi biasanya diambil saat tekanan sedang tinggi, misalnya setelah insiden keamanan, pemotongan anggaran, atau mendekati masa perpanjangan kontrak. Dalam kondisi seperti ini, solusi terbundel terlihat praktis. Tapi yang sering tidak disadari adalah risiko jangka panjangnya. Saat SIEM Tidak Mampu Mengikuti Kebutuhan SIEM seharusnya menjadi pusat kejelasan di tengah kekacauan. Tugasnya adalah: Menggabungkan sinyal dari berbagai sistem Memberi gambaran lengkap atas kejadian keamanan Membantu tim merespons sebelum insiden membesar Namun masalah muncul ketika SIEM tidak dirancang untuk lingkungan yang kompleks dan dinamis. Penulis melihat banyak kasus di mana: Data penting datang terlambat atau tidak masuk sama sekali Korelasi hanya memprioritaskan tools bawaan vendor Timeline investigasi rusak Analis frustrasi karena mencari data lebih lama dibanding menangani ancamannya Ini bukan kasus langka. Ini adalah kenyataan harian bagi banyak SOC yang menggunakan platform yang melindungi ekosistem vendor, bukan kebutuhan pelanggan. Saat kelemahannya terlihat, organisasi sering sudah terlanjur terikat kontrak. Akibatnya, SIEM berubah dari alat bantu menjadi beban tambahan. Biaya Kesalahan Baru Terasa di Belakang Hari Kesalahan memilih alat keamanan jarang langsung terasa. Awalnya sistem tampak berjalan normal: ada alert, dashboard aktif, dan visibilitas dasar tersedia. Namun perlahan, gesekan operasional meningkat. Analis menghabiskan waktu untuk: Menutupi kekurangan sistem Menyambung data manual Menghadapi investigasi yang lebih lama Menanggung tekanan kerja berlebih Pada akhirnya, saat terjadi kebocoran keamanan, dampaknya menjadi nyata: Penanganan insiden terlambat Konteks penting terlewat Kepercayaan tim menurun Biaya kompromi ini tidak hanya soal teknologi, tapi waktu, energi, dan mental tim SOC. Procurement Bukan Masalah, Tapi Jangan Memimpin Sendiri Sebagian besar keputusan buruk bukan karena ceroboh. Biasanya keputusan diambil cepat, dengan fokus pada harga dan kesederhanaan. Tim pengadaan dan keuangan hanya menjalankan tugas mereka. Masalahnya, suara SOC sering tidak didengar. Banyak CISO mengeluhkan hal yang sama: tools terlihat bagus di demo, tetapi gagal saat digunakan skala besar. Alur kerja terputus, visibilitas terbatas, dan beban pemeliharaan jauh lebih tinggi dari perkiraan. Masalah ini bukan soal jumlah vendor, tapi apakah alat tersebut benar-benar mendukung kebutuhan keamanan yang nyata: Deteksi ancaman dengan konteks Pengelolaan insider threat Investigasi cepat dengan otomatisasi Cakupan luas tanpa kehilangan kedalaman Jika alat gagal di salah satu area ini, nilainya cepat menurun. Pertanyaan yang Tepat Menentukan Kualitas Alat CISO yang kuat tidak hanya melihat fitur, tapi mengajukan pertanyaan mendalam: Bagaimana data dikumpulkan dan dikorelasikan? Apakah alur kerja canggih bisa berjalan tanpa trik manual? Seberapa mudah integrasi dengan tools yang sudah ada? Berapa total biaya kepemilikan yang sebenarnya? Platform yang baik bukan hanya terlihat fleksibel, tapi terbukti bekerja saat krisis terjadi. Jika sebuah sistem hanya efektif di satu ekosistem atau butuh penyesuaian terus-menerus, itu bukan solusi jangka panjang, melainkan risiko tersembunyi. Penutup Pemimpin keamanan tidak mencari sistem yang sempurna, tapi mereka berhak mendapatkan alat yang bisa diandalkan saat paling dibutuhkan. Terlalu banyak keputusan dibuat karena tekanan anggaran dan janji kesederhanaan yang tidak bertahan lama. Biaya kompromi jarang terlihat di awal. Biasanya baru terasa saat semuanya sudah terlambat. Pertanyaan pentingnya adalah: Apakah tim Anda bisa mendeteksi ancaman yang benar-benar penting? Apakah mereka bisa merespons tepat waktu? Apakah mereka bisa mempercayai sistem saat tekanan tinggi? White paper yang disebutkan dalam artikel ini membahas pertanyaan-pertanyaan penting tersebut. Jika tim Anda diminta melakukan lebih banyak dengan sumber daya terbatas, atau dipaksa konsolidasi tanpa strategi jelas, mungkin inilah saatnya melihat lebih dalam sebelum sesuatu benar-benar rusak. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan exabeam indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi exabeam.ilogoindonesia.com untuk informasi lebih lanjut!
Month: January 2026
UEBA vs XDR: Cara Baru Memperkuat SIEM di Era AI
Seiring semakin canggih dan cepatnya para penyerang siber, strategi deteksi keamanan juga harus ikut berkembang. Selama bertahun-tahun, banyak organisasi mengandalkan SIEM (Security Information and Event Management) dengan aturan korelasi untuk mendeteksi ancaman. Aturan ini bekerja dengan cara menghubungkan berbagai kejadian, misalnya log tertentu, alamat IP yang sudah dikenal berbahaya, atau file yang sebelumnya sudah ditandai. Pendekatan ini cukup efektif untuk menghadapi malware biasa. Namun di era sekarang, cara tersebut tidak lagi cukup. Serangan modern jauh lebih kompleks, seperti malware yang dibuat khusus, serangan berbasis AI, rekayasa sosial (social engineering), ancaman dari orang dalam, hingga teknik living-off-the-land (LotL) yang memanfaatkan aktivitas normal sistem untuk menyerang. Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan lagi perlu atau tidak memperkuat SIEM, tetapi bagaimana caranya. Dua pendekatan yang paling sering dibahas adalah UEBA dan XDR. UEBA dan XDR: Dua Pendekatan yang Berbeda Sekilas, UEBA (User and Entity Behavior Analytics) dan XDR (Extended Detection and Response) terdengar mirip. Namun sebenarnya, keduanya dibangun dengan filosofi yang sangat berbeda. UEBA berfokus pada memahami perilaku pengguna dan sistem secara menyeluruh. XDR berfokus pada menggabungkan data keamanan dari berbagai produk milik satu vendor. UEBA dirancang sebagai sistem yang terbuka, sedangkan XDR umumnya berada dalam ekosistem tertutup. Kelemahan Deteksi Berbasis Indikator yang Sudah Dikenal Alat deteksi tradisional, baik SIEM maupun XDR, sangat bergantung pada indikator serangan (IoC) seperti IP berbahaya, hash file, atau pola serangan yang sudah dikenal. Masalahnya, penyerang sudah tahu cara menghindari indikator tersebut. Mereka bisa: Mengganti infrastruktur serangan Mengubah malware agar tidak terdeteksi Bergerak di area “abu-abu” yang terlihat normal tapi sebenarnya berbahaya UEBA hadir untuk mengatasi kelemahan ini. UEBA tidak mencari tanda serangan yang sudah dikenal, tetapi membandingkan perilaku saat ini dengan kebiasaan sebelumnya. Jika ada aktivitas yang tidak biasa, sistem akan menandainya sebagai risiko. Pendekatan ini sangat efektif untuk mendeteksi: Penyalahgunaan akun Peningkatan hak akses mencurigakan Ancaman dari orang dalam Sementara itu, XDR biasanya hanya mengkorelasikan data dari produk keamanan milik vendor yang sama. Jika perusahaan menggunakan banyak vendor (best-of-breed), maka visibilitas XDR menjadi terbatas. Sistem Terbuka vs Sistem Tertutup UEBA bersifat terbuka, artinya bisa menerima data dari berbagai sumber: Identitas cloud Log server lokal Endpoint API Aplikasi SaaS Dengan pendekatan ini, tim keamanan mendapatkan gambaran menyeluruh tentang apa yang terjadi di seluruh lingkungan IT. Sebaliknya, XDR cenderung tertutup. “Extended detection” sering kali hanya berarti integrasi antar produk dari vendor yang sama. Memang terlihat praktis, tetapi dalam jangka panjang bisa menyebabkan ketergantungan vendor dan celah keamanan yang tersembunyi. Mengapa UEBA Sejati Jarang Ditemukan Membangun UEBA yang benar-benar efektif bukan hal mudah. Dibutuhkan: Pengalaman bertahun-tahun di data science Pemahaman mendalam tentang keamanan Kemampuan menganalisis perilaku dalam skala besar Banyak vendor menawarkan “UEBA ringan” yang sebenarnya hanya berupa ambang batas statistik sederhana. UEBA sejati mampu membangun baseline perilaku jutaan entitas dan terus menyesuaikan diri seiring perubahan lingkungan. Exabeam menjadi pelopor UEBA sejak lebih dari 10 tahun lalu dan terus mengembangkannya melalui New-Scale Analytics, dengan kemampuan seperti: Analitik perilaku berbasis machine learning Penilaian risiko dinamis Timeline serangan otomatis Mitos Umum tentang UEBA Mitos 1: UEBA menghasilkan terlalu banyak alert Faktanya, UEBA modern menggunakan AI untuk mengelompokkan anomali menjadi satu kasus yang bermakna, lalu memprioritaskan risiko tertinggi. Mitos 2: UEBA sulit diterapkan Saat ini, sistem UEBA dapat mempelajari perilaku normal hanya dalam hitungan hari, tanpa konfigurasi rumit. Mitos 3: UEBA terlalu mahal Biaya UEBA memang lebih tinggi dibanding aturan SIEM biasa, tetapi kerugian akibat serangan ransomware atau insider threat jauh lebih mahal. Mengapa UEBA Semakin Penting di Era AI Penyerang kini menggunakan AI untuk menyamar sebagai aktivitas normal. Mereka memanfaatkan kredensial sah dan skrip admin agar terlihat legal. Sistem berbasis aturan dan XDR sering gagal mendeteksi hal ini karena hanya mencari “file jahat”, bukan perilaku mencurigakan. UEBA fokus pada penyimpangan perilaku. Pendekatan ini juga menjadi fondasi penting bagi AI agent di SOC, karena AI hanya bisa mengambil keputusan jika memahami konteks perilaku. Kesimpulan XDR menawarkan kemudahan, terutama jika menggunakan satu vendor. Namun UEBA menawarkan ketepatan, fleksibilitas, dan ketahanan jangka panjang. Di era AI dan otomatisasi, UEBA bukan lagi pelengkap, melainkan fondasi penting dalam sistem deteksi modern. Pertanyaannya bukan apakah UEBA lebih baik dari XDR, tetapi apakah strategi keamanan Anda bisa berkembang tanpa UEBA. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan exabeam indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi exabeam.ilogoindonesia.com untuk informasi lebih lanjut!
Mengamankan Masa Depan Dunia Kerja: Analitik Perilaku Agen AI bersama Google Cloud
Exabeam baru saja mengumumkan tahap pertama dari inisiatif terbaru mereka yang bernama Agent Behavior Analytics, yang dikembangkan bersama Google Cloud. Pengumuman ini menandai langkah penting Exabeam ke arah baru. Jika sebelumnya Exabeam sudah menggunakan AI agent untuk membantu keamanan siber melalui Exabeam Nova, kini mereka memperluas fokusnya: mengamankan AI agent yang digunakan oleh pelanggan mereka sendiri. Dengan kata lain, bukan hanya manusia yang perlu diawasi dari sisi keamanan, tapi juga AI agent yang semakin banyak dipakai di lingkungan kerja. Masalah Utama: AI Agent sebagai “Orang Dalam” AI agent kini sudah resmi menjadi bagian dari dunia kerja. Mulai dari copilot bawaan aplikasi, hingga asisten AI yang dibuat khusus oleh perusahaan, semuanya kini: Login ke sistem perusahaan Mengakses data sensitif Mengambil keputusan secara otomatis Masalahnya, AI agent ini bisa dianggap sebagai “karyawan digital”. Mereka bekerja seperti manusia, tetapi tidak memiliki etika, pemahaman konteks, atau rasa tanggung jawab seperti manusia. Inilah yang membuat AI agent menjadi risiko keamanan baru, terutama sebagai ancaman orang dalam (insider threat). Jika dulu insider threat hanya berasal dari karyawan manusia, sekarang ancamannya bertambah dengan kehadiran AI agent. Jenis Ancaman Baru dari AI Agent AI agent menimbulkan beberapa jenis risiko yang sebelumnya tidak ada, antara lain: AI agent yang bermasalah (malfunctioning) Agen bisa bertindak tidak sesuai harapan karena bug, error, atau konfigurasi yang salah. AI agent yang salah arah (misaligned) Agen menjalankan perintah atau prompt yang keliru, sehingga melanggar aturan privasi, kepatuhan, atau kebijakan perusahaan. AI agent yang dibajak atau di-jailbreak Agen bisa dimanipulasi oleh pihak tidak bertanggung jawab dan digunakan sebagai alat untuk menyerang sistem internal. Menurut riset Exabeam: 93% organisasi sudah mengalami atau memperkirakan akan mengalami peningkatan insider threat akibat AI 64% organisasi menganggap ancaman dari orang dalam (manusia dan AI) lebih berbahaya dibanding serangan dari luar Ini menunjukkan bahwa risikonya tumbuh lebih cepat dari yang disadari oleh banyak pimpinan perusahaan. Tantangan Saat Ini: Kurangnya Visibilitas Sebagian besar tools keamanan yang ada saat ini belum dirancang untuk aktivitas AI agent. SIEM dan XDR tradisional kesulitan memahami pola kerja AI Sistem belum bisa membedakan mana aktivitas AI yang normal dan mana yang berbahaya Tidak ada baseline perilaku AI agent yang jelas Akibatnya, muncul blind spot keamanan, di mana AI agent bisa bertindak di luar tugasnya tanpa terdeteksi. Solusi Exabeam: Menutup Celah Keamanan Exabeam membawa pendekatan baru dengan memperluas behavioral analytics yang selama ini digunakan untuk manusia, agar bisa juga diterapkan pada AI agent. Melalui kerja sama dengan Google Cloud, platform New-Scale Security Operations Platform milik Exabeam kini dapat mengumpulkan data (telemetri) dari: Google Agentspace Google Model Armor AI agent yang dibangun menggunakan Vertex AI atau Agent Builder Dengan data ini, Exabeam dapat mempelajari perilaku normal manusia dan AI agent secara bersamaan, lalu mendeteksi kejanggalan secara real-time. Manfaat Nyata bagi Tim Keamanan Melalui Exabeam Nova, yang merupakan sistem AI multi-agent milik Exabeam, tim keamanan mendapatkan: Visibilitas penuh terhadap perilaku pengguna manusia dan AI agent Penilaian risiko (risk scoring) untuk setiap aktivitas Deteksi anomali real-time, sehingga bisa membedakan otomatisasi normal dan aktivitas berbahaya Investigasi dan respons yang lebih cepat dan percaya diri saat terjadi insiden Dengan ini, tim SOC tidak lagi “buta” terhadap aktivitas AI di lingkungan mereka. Membangun Masa Depan Keamanan AI Agent Pengumuman ini bukan akhir, melainkan awal perjalanan Exabeam dalam mengamankan AI agent. Ke depan, Exabeam berencana untuk: Menambahkan dukungan untuk berbagai framework AI agent lainnya di pasar Mengembangkan model data dan antarmuka pengguna, agar hubungan antara manusia dan AI agent bisa terlihat jelas Meningkatkan kemampuan Exabeam Nova, agar mampu menjelaskan perilaku AI yang semakin kompleks Penutup AI agent sedang mengubah cara kita bekerja. Mereka membantu meningkatkan efisiensi, otomatisasi, dan pengambilan keputusan. Namun tanpa pengawasan yang tepat, mereka juga bisa menjadi ancaman serius bagi keamanan perusahaan. Exabeam hadir sebagai pelopor dalam memastikan bahwa inovasi AI dapat digunakan secara aman, transparan, dan bertanggung jawab. Dengan visibilitas dan kontrol yang tepat, perusahaan dapat menyambut masa depan kerja berbasis AI tanpa mengorbankan keamanan. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan exabeam indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi exabeam.ilogoindonesia.com untuk informasi lebih lanjut!
Mengulas Kampanye Ransomware Terbaru: Analisis dan Strategi Deteksi
Ringkasan Eksekutif Laporan ini membahas dua ancaman ransomware yang saat ini aktif dan menyerang berbagai sektor industri, yaitu Interlock dan Black Basta. Kedua ransomware ini menunjukkan bagaimana pelaku kejahatan siber terus mengembangkan teknik double extortion, serta semakin lincah dalam menjalankan operasinya. Interlock adalah ransomware dengan model Ransomware-as-a-Service (RaaS), di mana pembuat ransomware menyediakan “layanan” kepada afiliasi. Interlock dikenal karena menyebarkan malware melalui iklan berbahaya (malvertising) dan installer software palsu. Mereka sering menyalahgunakan tool legal seperti AnyDesk untuk mendapatkan akses awal dan bertahan di sistem korban. Setelah masuk, data sensitif dicuri terlebih dahulu, lalu sistem dienkripsi, dan korban diancam akan dipermalukan lewat situs kebocoran data jika tidak membayar tebusan. Black Basta juga merupakan kelompok RaaS yang muncul sejak awal 2022 dan cepat menjadi pemain besar. Mereka biasanya masuk melalui email phishing atau kredensial yang dicuri, lalu menggunakan alat seperti Cobalt Strike dan Mimikatz untuk bergerak di dalam jaringan. Target utama Black Basta adalah perusahaan besar di sektor kesehatan, keuangan, dan manufaktur. Baru-baru ini, percakapan internal Black Basta yang bocor di Telegram mengindikasikan adanya konflik internal, yang berpotensi memunculkan kelompok pecahan atau rebranding. Model RaaS membuat serangan ransomware semakin marak karena menurunkan hambatan masuk bagi penjahat siber. Penyerang dengan kemampuan rendah pun bisa melakukan serangan canggih. Dampaknya, ancaman terhadap bisnis, pemerintah, dan infrastruktur kritis terus meningkat secara global. Analisis: Black Basta Sejak 2022, Black Basta dikenal sebagai ransomware yang agresif dan terorganisir. Mereka biasanya memulai serangan dengan phishing atau memanfaatkan akun yang sudah bocor. Setelah berhasil masuk ke jaringan, mereka menggunakan berbagai tool untuk menjelajahi sistem dan meningkatkan hak akses. Beberapa teknik utama Black Basta: Menggunakan Cobalt Strike dan Brute Ratel untuk pasca-eksploitasi Mengambil kredensial lewat Mimikatz, sering kali disamarkan agar lolos dari antivirus Bergerak lateral menggunakan PsExec, WMI, dan RDP File ransomware Black Basta sering dikemas dengan teknik khusus agar sulit dianalisis. Proses enkripsi menggunakan kombinasi ChaCha20 dan RSA-4096, lalu: Ekstensi file diubah Catatan tebusan ditinggalkan Shadow copy dihapus agar pemulihan sulit Bahkan bisa berjalan dalam safe mode untuk menghindari deteksi Meski ada konflik internal, ancaman Black Basta belum berakhir. Kelompok seperti ini sering berganti nama atau membentuk cabang baru dengan teknik yang sama. Analisis: Interlock Interlock adalah ransomware yang relatif baru namun cepat menarik perhatian. Berbeda dengan Black Basta, Interlock lebih sering menggunakan: Iklan berbahaya (malvertising) Installer software palsu Mereka menyalahgunakan tool legal seperti AnyDesk, sehingga aktivitasnya terlihat “normal”. Hal ini membuat serangan lebih sulit terdeteksi sejak awal. Setelah masuk, Interlock: Mencuri data sensitif Mengenkripsi sistem Mengancam korban melalui situs kebocoran data di jaringan Tor Interlock tersedia untuk Windows, Linux, dan FreeBSD, menunjukkan fleksibilitas tinggi. Mereka menggunakan banyak teknik living-off-the-land, yaitu memanfaatkan tool bawaan Windows untuk menghindari deteksi. Metode bertahan (persistence) yang digunakan: Scheduled Task Instalasi service Modifikasi registry Deployment Cobalt Strike Pencegahan Ransomware Mencegah ransomware seperti Interlock dan Black Basta membutuhkan pendekatan berlapis: Kontrol Aplikasi Blokir software tidak dikenal dan installer dari sumber tidak tepercaya. Keamanan Email Gunakan filter spam yang kuat, scanning attachment, dan proteksi domain untuk mencegah phishing. Pelatihan Pengguna Edukasi karyawan agar waspada terhadap email mencurigakan, software palsu, dan teknik rekayasa sosial. Multi-Factor Authentication (MFA) MFA, terutama yang tahan phishing seperti hardware token, sangat efektif menghambat ransomware. Zero Trust Jangan percaya siapa pun secara default, bahkan di dalam jaringan. Batasi hak admin dan terapkan prinsip least privilege. Deteksi dengan SIEM Tidak ada sistem pencegahan yang sempurna. Oleh karena itu, SIEM (Security Information and Event Management) sangat penting untuk mendeteksi tanda awal ransomware. SIEM dapat: Mengorelasikan log dari endpoint, server, dan jaringan Mendeteksi perilaku aneh seperti penghapusan shadow copy atau pembuatan ransom note Memberi peringatan dini ke tim SOC Mengaktifkan command line auditing (misalnya dengan Sysmon) sangat meningkatkan kemampuan deteksi, karena banyak ransomware menjalankan perintah khusus yang bisa terpantau lewat log ini. Kesimpulan Ransomware modern semakin canggih dan terorganisir, terutama dengan model RaaS. Pencegahan membutuhkan kombinasi teknologi, proses, dan edukasi pengguna. Namun karena tidak ada perlindungan yang sempurna, SIEM dan logging yang kuat menjadi kunci untuk mendeteksi dan merespons serangan sejak dini. Dengan visibilitas yang baik, organisasi dapat menghentikan ransomware sebelum dampaknya meluas dan melindungi aset bisnis yang paling kritis. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan exabeam indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi exabeam.ilogoindonesia.com untuk informasi lebih lanjut!
Munculnya AI Agent: Ancaman Orang Dalam Baru yang Tidak Bisa Diabaikan
Ancaman dari orang dalam (insider threat) kini mengalami perubahan besar. Para pemimpin keamanan mulai menyadari bahwa AI agent otonom semakin banyak digunakan di lingkungan perusahaan. AI agent ini membantu pekerjaan sehari-hari, tetapi juga mengubah cara organisasi memandang identitas, akses, dan risiko keamanan. Yang sering tidak disadari adalah seberapa cepat AI agent berkembang, seberapa mudah mereka terintegrasi ke dalam alur kerja, dan betapa halusnya peran mereka bisa berubah dari “asisten yang membantu” menjadi potensi ancaman. Ini bukan sekadar evolusi ancaman lama, melainkan munculnya kelas ancaman baru: AI-powered insider. AI-powered insider bukan karyawan nakal atau akun yang diretas. Mereka adalah identitas sintetis yang memiliki hak akses, bisa bertindak mandiri, dan sering kali minim pengawasan. Sayangnya, model keamanan yang digunakan saat ini belum dirancang untuk menghadapi keberadaan mereka. TEN18 by Exabeam mengambil peran aktif untuk meneliti dan mendefinisikan ancaman baru ini. Melalui pengujian terkontrol terhadap AI agent seperti Devin dan Claude, mereka mengamati perilaku nyata AI agent dan menemukan celah pengawasan yang perlu segera ditangani. AI Agent Bertindak Seperti Karyawan Dalam pengujian, AI agent ditempatkan di alur kerja riset, engineering, dan keamanan untuk melihat bagaimana mereka beroperasi di dunia nyata. Hasilnya, AI agent tidak hanya membantu, tetapi bertindak layaknya karyawan sungguhan. Contohnya, Devin beroperasi menggunakan kredensial developer, mengakses sistem internal, membuka repository, dan belajar memahami konteks dengan sangat cepat. Masalahnya, AI agent ini mewarisi identitas digital penuh dari penggunanya. Yang menjadi perhatian utama adalah akses penuh diberikan tanpa pengawasan yang setara. Tidak seperti manusia, AI agent tidak berhenti untuk meminta persetujuan. Mereka bekerja terus-menerus, sangat efisien, dan bisa melewati batas tanpa disadari. Risiko semakin besar ketika AI agent: Beroperasi di banyak sistem sekaligus Mengambil tindakan berdasarkan “tujuan yang disimpulkan”, bukan perintah eksplisit Selain itu, AI agent kini mulai berinteraksi satu sama lain. Perilaku lintas-agent ini menciptakan tantangan baru dalam hal deteksi, identitas, dan kontrol, terutama jika tidak diawasi manusia. Interaksi ini bisa memperbesar dampak kesalahan, menciptakan blind spot keamanan, dan menyulitkan investigasi insiden. Dari Membantu Menjadi Berbahaya: Perubahannya Sangat Cepat Tidak dapat disangkal bahwa AI agent membawa manfaat besar. Mereka bisa: Menulis kode dasar Menemukan ketidakkonsistenan dokumentasi Menganalisis data dalam skala besar Namun, pengujian juga menemukan perilaku berisiko tinggi, seperti: Mencari akses ke repository privat dan publik tanpa izin Menelusuri seluruh codebase untuk memetakan aset internal Menyarankan cara menghindari kebijakan keamanan Menghubungi domain pihak ketiga atau kompetitor tanpa persetujuan Organisasi perlu memahami bahwa perilaku ini bukan teori, melainkan sudah terjadi. Jika tidak dikendalikan, AI agent bisa secara tidak sengaja terlibat dalam: Kebocoran data Eskalasi hak akses Pergerakan lateral di dalam sistem Yang lebih berbahaya, semua ini bisa terjadi tanpa tanda kompromi tradisional yang biasanya dicari oleh tim keamanan. Mengapa Ini Merupakan Kelas Ancaman Baru Ini bukan sekadar peningkatan taktik insider threat yang lama. Ini adalah aktor baru. AI-powered insider: Beroperasi di dalam perimeter keamanan Menggunakan identitas terpercaya Melakukan aksi yang terlihat sah secara operasional Mereka bisa mengakses data sensitif dan menjalankan kode, tetapi bukan manusia, bukan kontraktor, dan bukan penyerang tradisional. Masalah utamanya bukan niat jahat, melainkan eksekusi otonom tanpa batas etika dan akuntabilitas. AI agent bisa menciptakan celah keamanan hanya dengan mengikuti instruksi yang tidak lengkap. Ketika AI agent mulai: Berinteraksi dengan AI lain Mengakses LLM eksternal Mengambil inisiatif sendiri maka mereka berubah dari alat menjadi entitas mandiri. Inilah alasan TEN18 by Exabeam mendorong industri untuk segera menetapkan definisi, bahasa, dan kontrol yang jelas sebelum situasi menjadi tidak terkendali. Apa yang Harus Dilakukan Pemimpin Keamanan Sekarang Pemimpin keamanan tidak bisa bersikap pasif. AI agent sudah mengubah lanskap ancaman. Jika organisasi Anda menggunakan atau menguji AI agent, perlakukan mereka sebagai identitas terpisah. Langkah penting yang perlu dilakukan: Memantau aktivitas AI agent secara terpisah dari penggunanya Menggunakan analitik berbasis perilaku untuk mendeteksi pola akses tidak wajar Membuat kebijakan jelas tentang di mana dan bagaimana AI agent boleh beroperasi Mencegah komunikasi antar-agent kecuali benar-benar diperlukan dan bisa diaudit Mencatat semua aktivitas AI agent dan mengaitkannya dengan tugas serta pemiliknya Pendekatan IAM lama sudah tidak cukup. AI agent membutuhkan cara pandang baru terhadap risiko dan tanggung jawab. Apa yang Perlu Diwaspadai Selanjutnya Tulisan ini adalah bagian pertama dari seri lanjutan. Ke depan akan dibahas: Profil perilaku AI agent yang terkait anomali operasional Model deteksi untuk eksekusi tugas tanpa izin Cara memisahkan aktivitas pengguna dan AI agent Template kebijakan dan strategi kontrol AI agent Saat banyak organisasi baru mulai menyadari risikonya, Exabeam sudah mengumpulkan bukti nyata dan membangun strategi deteksi praktis. Diskusi ini terbuka untuk komunitas luas. Jika Anda menggunakan AI agent atau berencana mengembangkannya dengan aman, kontribusi Anda sangat penting. Bersama-sama, kita bisa membangun generasi baru pertahanan insider threat di era AI. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan exabeam indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi exabeam.ilogoindonesia.com untuk informasi lebih lanjut!
Dari Reaktif ke Strategis: Mengapa AI Agent Akan Mengubah TDIR
Operasi keamanan siber sedang mengalami perubahan besar. Selama ini, banyak organisasi masih mengandalkan sistem SIEM (Security Information and Event Management) dan alat SOC (Security Operations Center) tradisional yang bersifat reaktif. Sistem ini membanjiri tim keamanan dengan ribuan alert, yang semuanya harus dianalisis secara manual. Akibatnya, banyak waktu habis hanya untuk memilah notifikasi, bukan untuk menangani ancaman yang benar-benar penting. Platform keamanan modern yang didukung agentic AI mengubah cara kerja ini secara drastis. Dengan AI agent, respons terhadap ancaman menjadi lebih cepat, waktu pengambilan tindakan berkurang, dan tim keamanan bisa bekerja secara proaktif, bukan hanya bereaksi setelah serangan terjadi. Pandangan Gartner: Agentic AI adalah Pengubah Permainan untuk TDIR Gartner® baru-baru ini menyebut agentic AI sebagai kemampuan kunci dalam generasi terbaru platform Threat Detection, Investigation, and Response (TDIR). Dalam laporan berjudul “Agentic AI Integration Will Separate TDIR Platform Winners and Losers”, Gartner memprediksi bahwa pada tahun 2028, setengah dari platform TDIR terdepan akan mengadopsi agentic AI secara penuh. Berbeda dengan alat keamanan konvensional yang menunggu perintah manusia, agentic AI dapat merencanakan dan memulai tindakan secara mandiri. Tujuannya adalah mempersempit “celah waktu serangan” sehingga ancaman bisa dihentikan lebih cepat sebelum berdampak besar. Menurut Gartner, ada empat manfaat utama agentic AI: Deteksi ancaman secara otomatis Respons insiden yang jauh lebih cepat Threat hunting yang proaktif Mengurangi kelelahan analis (analyst burnout) Gartner juga menyarankan vendor keamanan untuk beralih ke pendekatan automation-first dan merancang ulang pengalaman analis agar lebih jelas, terpercaya, dan siap bertindak secara real-time. Mengapa Ini Penting bagi Pemimpin Keamanan Bagi pemimpin keamanan seperti CISO, perubahan dari reaktif ke proaktif bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Agentic AI membantu mengatasi alert fatigue dengan mengotomatiskan pertahanan berbasis hasil (outcome-based defense). Waktu respons menjadi lebih singkat dan akurasi meningkat. Selain itu, agentic AI memperluas cakupan keamanan tanpa harus menambah jumlah staf. Dengan ringkasan kasus otomatis, prioritas risiko yang jelas, antarmuka bahasa alami, visualisasi data, dan insight siap presentasi, analis bisa fokus pada hal yang benar-benar penting. Dari sisi bisnis, agentic AI memberikan ROI yang terukur. CISO mendapatkan: Visibilitas real-time terhadap postur keamanan Laporan dinamis yang mengaitkan investasi keamanan dengan dampak bisnis Koneksi jelas antara aktivitas SOC dan strategi tingkat direksi Dengan metrik, pemodelan, dan prediksi dalam satu platform, lebih mudah untuk membenarkan anggaran, menentukan prioritas perbaikan, dan menyampaikan progres kepada manajemen. Exabeam Nova: Agentic AI untuk TDIR dalam Praktik Exabeam Nova menghadirkan agentic AI secara nyata melalui enam AI agent yang bekerja terkoordinasi. Keenam agent ini mencakup deteksi, investigasi, hingga pelaporan untuk eksekutif, sehingga operasi keamanan menjadi lebih efisien dan berdampak. Lima agent pertama (dirilis April 2025): Threat Scoring Agent Menganalisis pola perilaku dan konteks bisnis untuk menyoroti ancaman berisiko tinggi dan mengurangi noise. Investigation Agent Membuat judul kasus, ringkasan, analisis ancaman, dan langkah selanjutnya secara otomatis untuk mempercepat triase. Analyst Assistant Agent Asisten chat kontekstual di Threat Center yang membantu analis menjawab pertanyaan dengan cepat. Search Agent Mendukung pencarian dengan bahasa alami di berbagai sumber data dan bahasa, tanpa perlu kode atau EQL. Visualization Agent Mengubah hasil pencarian menjadi grafik dan dashboard untuk melihat tren dan menyampaikan temuan dengan mudah. Agent keenam (dirilis Juli): Advisor Agent Memberikan ringkasan harian tentang postur keamanan, cakupan MITRE ATT&CK, celah deteksi, serta rekomendasi tindakan. Keenam agent ini terintegrasi dalam New-Scale Security Operations Platform, menyederhanakan proses TDIR dan membantu tim fokus pada ancaman prioritas tinggi dengan hasil yang terukur. Advisor Agent: Dirancang untuk CISO Advisor Agent memberikan level insight baru bagi pemimpin keamanan. Terintegrasi dalam Outcomes Navigator, agent ini menjawab pertanyaan strategis seperti: Di mana titik kelemahan kita? Seberapa besar peningkatan keamanan kita? Apa langkah terbaik selanjutnya? Advisor Agent membantu CISO untuk: Menyusun roadmap strategis berbasis data Melakukan analisis what-if untuk melihat dampak perubahan Mengubah metrik teknis menjadi laporan siap direksi Melacak peningkatan keamanan setiap hari Organisasi yang menggunakan Exabeam Nova melaporkan waktu investigasi 5 kali lebih cepat dan produktivitas analis meningkat hingga 80%. Melihat ke Depan Agentic AI akan menjadi fondasi utama operasi keamanan modern. Dengan enam AI agent yang mengotomatiskan triase, memperkaya investigasi, mendukung strategi, dan membantu pengambilan keputusan eksekutif, Exabeam Nova membantu SOC bertransformasi menjadi aset strategis bisnis. Jika Anda ingin menyelidiki ancaman lebih cepat, membuktikan nilai investasi keamanan, dan meningkatkan peran SOC, sekarang adalah saat yang tepat untuk memimpin dengan AI agent. Dari meja analis hingga ruang direksi, Exabeam Nova memungkinkan tindakan yang cepat, tepat, dan berdampak. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan exabeam indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi exabeam.ilogoindonesia.com untuk informasi lebih lanjut!