Seiring semakin canggih dan cepatnya para penyerang siber, strategi deteksi keamanan juga harus ikut berkembang. Selama bertahun-tahun, banyak organisasi mengandalkan SIEM (Security Information and Event Management) dengan aturan korelasi untuk mendeteksi ancaman. Aturan ini bekerja dengan cara menghubungkan berbagai kejadian, misalnya log tertentu, alamat IP yang sudah dikenal berbahaya, atau file yang sebelumnya sudah ditandai.
Pendekatan ini cukup efektif untuk menghadapi malware biasa. Namun di era sekarang, cara tersebut tidak lagi cukup. Serangan modern jauh lebih kompleks, seperti malware yang dibuat khusus, serangan berbasis AI, rekayasa sosial (social engineering), ancaman dari orang dalam, hingga teknik living-off-the-land (LotL) yang memanfaatkan aktivitas normal sistem untuk menyerang.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan lagi perlu atau tidak memperkuat SIEM, tetapi bagaimana caranya. Dua pendekatan yang paling sering dibahas adalah UEBA dan XDR.
UEBA dan XDR: Dua Pendekatan yang Berbeda
Sekilas, UEBA (User and Entity Behavior Analytics) dan XDR (Extended Detection and Response) terdengar mirip. Namun sebenarnya, keduanya dibangun dengan filosofi yang sangat berbeda.
-
UEBA berfokus pada memahami perilaku pengguna dan sistem secara menyeluruh.
-
XDR berfokus pada menggabungkan data keamanan dari berbagai produk milik satu vendor.
UEBA dirancang sebagai sistem yang terbuka, sedangkan XDR umumnya berada dalam ekosistem tertutup.
Kelemahan Deteksi Berbasis Indikator yang Sudah Dikenal
Alat deteksi tradisional, baik SIEM maupun XDR, sangat bergantung pada indikator serangan (IoC) seperti IP berbahaya, hash file, atau pola serangan yang sudah dikenal. Masalahnya, penyerang sudah tahu cara menghindari indikator tersebut.
Mereka bisa:
-
Mengganti infrastruktur serangan
-
Mengubah malware agar tidak terdeteksi
-
Bergerak di area “abu-abu” yang terlihat normal tapi sebenarnya berbahaya
UEBA hadir untuk mengatasi kelemahan ini. UEBA tidak mencari tanda serangan yang sudah dikenal, tetapi membandingkan perilaku saat ini dengan kebiasaan sebelumnya. Jika ada aktivitas yang tidak biasa, sistem akan menandainya sebagai risiko.
Pendekatan ini sangat efektif untuk mendeteksi:
-
Penyalahgunaan akun
-
Peningkatan hak akses mencurigakan
-
Ancaman dari orang dalam
Sementara itu, XDR biasanya hanya mengkorelasikan data dari produk keamanan milik vendor yang sama. Jika perusahaan menggunakan banyak vendor (best-of-breed), maka visibilitas XDR menjadi terbatas.
Sistem Terbuka vs Sistem Tertutup
UEBA bersifat terbuka, artinya bisa menerima data dari berbagai sumber:
-
Identitas cloud
-
Log server lokal
-
Endpoint
-
API
-
Aplikasi SaaS
Dengan pendekatan ini, tim keamanan mendapatkan gambaran menyeluruh tentang apa yang terjadi di seluruh lingkungan IT.
Sebaliknya, XDR cenderung tertutup. “Extended detection” sering kali hanya berarti integrasi antar produk dari vendor yang sama. Memang terlihat praktis, tetapi dalam jangka panjang bisa menyebabkan ketergantungan vendor dan celah keamanan yang tersembunyi.
Mengapa UEBA Sejati Jarang Ditemukan
Membangun UEBA yang benar-benar efektif bukan hal mudah. Dibutuhkan:
-
Pengalaman bertahun-tahun di data science
-
Pemahaman mendalam tentang keamanan
-
Kemampuan menganalisis perilaku dalam skala besar
Banyak vendor menawarkan “UEBA ringan” yang sebenarnya hanya berupa ambang batas statistik sederhana. UEBA sejati mampu membangun baseline perilaku jutaan entitas dan terus menyesuaikan diri seiring perubahan lingkungan.
Exabeam menjadi pelopor UEBA sejak lebih dari 10 tahun lalu dan terus mengembangkannya melalui New-Scale Analytics, dengan kemampuan seperti:
-
Analitik perilaku berbasis machine learning
-
Penilaian risiko dinamis
-
Timeline serangan otomatis
Mitos Umum tentang UEBA
Mitos 1: UEBA menghasilkan terlalu banyak alert
Faktanya, UEBA modern menggunakan AI untuk mengelompokkan anomali menjadi satu kasus yang bermakna, lalu memprioritaskan risiko tertinggi.
Mitos 2: UEBA sulit diterapkan
Saat ini, sistem UEBA dapat mempelajari perilaku normal hanya dalam hitungan hari, tanpa konfigurasi rumit.
Mitos 3: UEBA terlalu mahal
Biaya UEBA memang lebih tinggi dibanding aturan SIEM biasa, tetapi kerugian akibat serangan ransomware atau insider threat jauh lebih mahal.
Mengapa UEBA Semakin Penting di Era AI
Penyerang kini menggunakan AI untuk menyamar sebagai aktivitas normal. Mereka memanfaatkan kredensial sah dan skrip admin agar terlihat legal. Sistem berbasis aturan dan XDR sering gagal mendeteksi hal ini karena hanya mencari “file jahat”, bukan perilaku mencurigakan.
UEBA fokus pada penyimpangan perilaku. Pendekatan ini juga menjadi fondasi penting bagi AI agent di SOC, karena AI hanya bisa mengambil keputusan jika memahami konteks perilaku.
Kesimpulan
XDR menawarkan kemudahan, terutama jika menggunakan satu vendor. Namun UEBA menawarkan ketepatan, fleksibilitas, dan ketahanan jangka panjang. Di era AI dan otomatisasi, UEBA bukan lagi pelengkap, melainkan fondasi penting dalam sistem deteksi modern.
Pertanyaannya bukan apakah UEBA lebih baik dari XDR, tetapi apakah strategi keamanan Anda bisa berkembang tanpa UEBA.
Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan exabeam indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
Hubungi kami sekarang atau kunjungi exabeam.ilogoindonesia.com untuk informasi lebih lanjut!
